Sering kali kita mendengar istilah “Kesehatan Mental”, tetapi apakah benar semua orang sudah memahaminya? Apakah kita sudah benar-benar melindunginya? Perlu diingat bahwa kesehatan mental bukanlah hal sepele yang bisa diabaikan begitu saja.
Kesehatan mental kita sangat dipengaruhi oleh apa yang kita terima, baik itu berupa paksaan maupun ucapan. Tanpa memandang usia, setiap orang memiliki batas ketahanan mental masing-masing. Sebagai contoh, ketika seseorang dipaksa melakukan sesuatu yang tidak disukainya secara terus-menerus, lama-kelamaan mentalnya bisa rusak karena tekanan yang bertubi-tubi. Terlebih lagi jika ditambah dengan ucapan-ucapan kasar. Siapa pun pasti akan merasa sakit hati jika dihina, dan hal itu bisa berdampak buruk pada jiwanya. Telinga mendengar, hati mendendam, dan mulut mungkin akan
mengumpat. Lalu, apa yang terjadi jika mental kita sudah terlanjur “lelah”? Kita mungkin akan berubah menjadi orang yang pendiam, mudah marah, atau kehilangan semangat untuk melakukan hal-hal yang biasanya kita sukai.
Dampaknya tidak sesederhana itu saja. Tekanan yang benar-benar berat bisa merusak mental secara mendalam hingga menyebabkan depresi dan membuat seseorang menjadi terlalu sensitif. Pikiran akan dipenuhi oleh hal-hal negatif yang tak kunjung hilang, muncul rasa trauma yang mendalam, bahkan dalam kondisi terparah, seseorang bisa berpikir untuk mengakhiri hidupnya.
Oleh karena itu, kita perlu berani untuk berkata “tidak” pada hal-hal yang merusak kedamaian pikiran kita. Jangan biarkan ucapan orang lain menentukan siapa diri kita. Jadilah pribadi yang tenang dan belajarlah untuk tidak terlalu memedulikan omongan negatif orang lain.
Oleh: Ceazie Maharani

